Jumat, 20 Desember 2013

Akankah Bulan Ditinggali?

Foto: EPA
Para ahli memperkirakan bahwa Bulan akan menjadi "benua ketujuh" pada pertengaham abad ke-21. Orang-orang akan berebut bagian kutub dari Bulan dan membangun tempat kediamannya di sana. Dalam hal ini, mungkin terjadi bahwa kepentingan banyak negara akan bentrok di Bulan.

Sekelompok komunitas ilmiah menggambarkan garis paralel antara kutub utara dan bulan, percaya bahwa persaingan yang kompetitif akan bermula pada kedua tempat tersebut. Banyak negara akan bersemangat mencapai bagian kutub Bulan yang merupakan tempat terbaik untuk hidup. Jumlah es yang melimpah telah ditemukan di sekitar daerah kutub. Es merupakan sumber oksigen dan air minum bagi astronot, dan hidrogen merupakan sumber bahan bakar dari pesawat luar angkasa. Sebagai tambahan, Bulan kaya akan sumber daya alam, termasuk logam langka yang dapat ditambang di sekitar kawasan pemukiman. Pada era sekarang, mengekstrak logam dari Bulan dan mengirimnya ke Bumi sangatlah mahal. Namun, suatu saat nanti, ketika sumber daya di bumi telah habis ditambang, sumber daya dari Bulan ini akan sangat berguna. Demikianlah argumen bagi mereka yang melihat tidak ada jalan lain untuk berkompetisi.

Kemungkinan besar, persebaran manusia di daerah kutub dan eksploitasi sumber daya akan dilakukan dengan cara yang beradab, demikian pendapat Vladislav Schevchenko, Kepala Departemen Studi Bulan dan Planet Institut Astronomi Sternberg di Moskow State University.

"Saya tidak ingin hal ini dipandang sebagai sebuah perjuangan. Ketika dahulu ada persaingan antara Amerika dan Uni Soviet untuk mencapai bulan, AS tidak menyelesaikan program Apollo mereka. Mereka meninggalkan Uni Soviet dan kehilangan ketertarikan. Saya telah berbincang dengan kolega dari Amerika Serikat bahwa eksplorasi harus dilanjutkan, mungkin akan bekerja sama dengan Uni Soviet, jika kami berhasil membuat perjanjian. Hal tersebut berarti, di masa depan, eksplorasi akan lebih baik berjalan sebagai sebuah kerja sama, bukan persaingan.

Berdasarkan perjanjian luar angkasa 1967, Bulan adalah provinsi bagi seluruh umat manusia. seseorang dapat mengklain sebuah wilayah di sana, namun hal tersebut tidak berarti di mata hukum. Menancapkan bendera di Bulan oleh astronot atau stasiun antarplanet adalah murni simbolik, sehingga tidak cukup tepat untuk menarik kesejajaran antara wilayah di bumi dan di Bulan. Bulan adalah "tambang emas" bagi informasi ilmiah dan harus dieksplorasi secara bersama-sama, demikian Wakil Direktur Institut Studi Antariksa di Russian Academy of Sciences, Vyacheslav Rodin, yakin.

"Kerja sama internasional merupakan hukum tertinggi jika tidak ada kepentingan ekonomi, sementara belum jelas di mana keuntungan komersial proyek ini berada. Para ilmuwan tidak dapat berkomunikasi satu sama lain berbagi gagasan/ide. Anda dapat yakin bahwa Bumi mempunyai tim gabungan untuk mengeksplorasi Bulan.

Adapun untuk kaum pengusaha, para ahli mengakui bahwa mereka diperbolehkan untuk mengeksplorasi sumber daya di Bulan. Ada ruang yang cukup bagi semua orang di kutub Bulan. Meskipun demikian, kemungkinan kita harus mengadopsi standar hukum internasional untuk mengatur kegiatan komersial di Bulan. Adapun Perjanjian Luar Angkasa, tidak ada kebutuhan untuk memperbaruinya. Perjanjian tersebut diratifikasi oleh sebagian besar komunitas internasional. Pada saat yang sama, ada negara yang tidak menandatanganinya atau menggunakannya tanpa meratifikasinya, seperti Cina dan Korea Utara. Sulit diperkirakan jika negara-negara tersebut akan berperilaku agresif di Bulan.

Sumber:
Pavlischev, Boris. "Will the Moon be Carved Up?". (http://voiceofrussia.com/2013_12_19/Will-the-Moon-be-carved-up-5783/, diakses pada 19-21 Desember 2013)

1 komentar:

  1. Waduh, sayangnya aku sudah punya kehidupan yang bahagia di sini e bos. wkwkwk :D

    BalasHapus