Rabu, 29 Juli 2015

Fuerte Apache dan Mural Carlos Tevez

Carlos Tevez (10) merayakan gol bersama Kwadwo Asamoah
Sebuah mural Carlos Tevez berukuran raksasa di Fuerte Apache, Buenos Aires, terbentang di sebelah lapngan sepakbola mini tempat anak-anak muda menggantungkan impiannya menjadi bintang Piala Dunia di masa mendatang. Penghormatan kepada salah satu pesepakbola paling terkenal ini dikatakan telah "mengabadikan" sang pemain, menurut Martin Ron, pelukis mural tersebut, yang mengerjakannya bersama Lean Frizzera dan Emy Mariani. Media kesenian setempat, BA Street Art, diberikan kesempatan istimewa untuk mengambil gambar dari Fuerte Apache, yang dianggap sebagai salah satu tenpat paling berbahaya di dunia dan mewawancarai Ron mengenai pekerjaannya ini.

Martin Ron di depan mural raksasa Carlos Tevez
Fuerte Apache terletak di Distrik Ciudadela di Provinsi Buenos Aires dan mempunyai bangunan apartemen yang tinggi yang mengesankan. Pemukiman tersebut sebenarnya bernama Ejercito de los Andes, namun menyusul baku tembak di sana dalam sebuat tayangan langsung televisi, sang reporter menyebut daerah tersebut "Fuerte Apache", nama Spanyol sebuah film pembunuhan tahun 1981 berjudul Fort Apache, The Bronx yang dibintangi Paul Newman. Mural itu sendiri digambar selama Piala Dunia 2010 setelah Argentina tersingkir di bawah asuhan Diego Maradona. Pada kejuaraan tersebut, Argentina lolos dari babak grup dengan Tevez menjadi salah satu bintangnya. Kemudian Martin menjelaskan dari mana gagasan untuk melukis 'Carlitos' muncul. "Pada waktu itu sedang ramainya Piala Dunia dan Tevez mencetak beberapa gol dan menjadi buah bibir masyarakat. Sepertinya itu kesempatan bagus pada waktu yang tepat untuk menyiapkan derek dan segala peralatan lalu melukis muralnya."

Mural Carlos di antara apartemen blok tunggal
Proyek yang diatur bersama-sama dengan dewan distrik ini melibatkan Martin, Lean, dan Emy dan berlangsung selama tiga hari. Martin menggambar sketsa pada hari pertama lalu trio tersebut menghabiskan akhir pekan dengan mengecatnya. Pada mulanya, penduduk Fuerte Apache tidak tertarik dengan adanya mural tersebut. "Pada hari pertama pemukim berujar bahwa ini tidak pantas disebut mural," Martin menyatakan. "Lalu pada hari kedua ketika mural ini mendapatkan bemtuknya, semua orang mulai keluar bersama tetangga-tetangganya sambil membawa bendera dan meminum bir. Mereka mengadakan murga (karnaval kecil dengan musik) dengan menabuh drum dan semua orang merasa senang."

Carlos Tevez menjadi idola adak-anak
"Dengan mural seperti ini, tidak ada yang lebih baik daripada memberi penghargaan kepada seseorang yang terkenal karena pekerjaannya, maka ini tidak hanya penghargaan kepada sang pesepakbola namun juga tentang seorang anak muda yang telah tumbuh bersama penduduk Fuerte Apache. Lupakan sejenak tentang kostum sepakbola dan pikirkan tentang Tevez sebagai pahlawan ketika dia diabadikan dalam cerita. Dan Anda telah melihat seberapa besar kami melukisnya pada bangunan sehingga Anda dapat melihatnya dari kejauhan. Anak-anak berkumpul bersama pada lapangan mini dekat sini bermain sepakbola dan mural ini adalah hal yang paling mencolok dalam perhatian saya, Banyak orang-orang tua mengatakan, 'Anak ini telah lama meninggalkan Fuerte Apache' tapi anak-anak mengidolakannya. Dan di lapangan yang kecil ini di mana mereka bermain sepakbola, melihat figur Carlos Tevez adalah motivasi bagi mereka, dia adalah ikon dan panutan bagi diri mereka. Untuk alasan ini, kami tidak ingin Tevez digambarkan dengan bola, atau mencetak gol sambil mengenakan kostum Argentina. Di mana pun setiap anak bermain bola, kami menginginkan figur yang sangat besar seperti backdrop sehingga ke manapun mereka menendang bola, dia selalu di sana."
Dari kejauhan - Teves dan salah satu gerbang menuju Fuerte Apache
Ironisnya, pembangunan pemukiman kumuh Ejercito de los Andes ini sendiri ada hanya disebabkan oleh sepakbola. Pemukiman ini dibangun sebelum Piala Dunia 1978 ketika junta militer hendak "menyembunyikan" pemukiman-pemukiman miskin di pusat Buenos Aires dari pandangan dunia. Karenanya, mereka merelokasi ribuan penduduk dari rumah dan gubuk mereka di pusat kota ke bangunan tiga belas lantai menjulang yang baru saja dibangun di daerah Tres de Febrero. Narkotika, pembunuhan, pemerkosaan, prostitusi, dan kriminal merupakan santapan sehari-hari kehidupan mereka. "Dalam 'penjara' ini dan pemukiman lain yang terpinggirkan, adalah mimpi tiap orang untuk bisa seperti Tevez, Maka sepakbola adalah jalan keluar," Martin menjelaskan. "Dari umur satu atau dua, anak-anak telah menendang kaleng. Tidak ada satu anak pun yang tidak menendang bola tiap hari agar mendapatkan kesempatan trial pada klub-klub profesional. Sepakbola atau olahraga hampir merupakan paksaan bagi tiap anak, dengan orang tua berharap anak-anak mereka mendapatkan masa depan yang lebih cerah sehingga anak-anak mereka tidak terjerumus ke dalam narkotika atau kriminal. Pada komunitas seperti ini, itulah alasannya mengapa sepakbola menjadi sangat penting.

Sumber:
20 Juni 2012. "The Fuerte Apache Mural that has "Immortalized" Carlos Tevez". (http://buenosairesstreetart.com/2012/06/the-fuerte-apache-mural-that-has-immortalized-carlos-tevez/, diakses pada 29 Juli 2015)

Lihat Juga
Hasil karya Martin Ron pada https://www.facebook.com/martinronmural

0 komentar:

Posting Komentar