Sabtu, 27 September 2014

Koka (Erythroxylum sp.) dalam Tradisi Masyarakat Pegunungan Andes





Pohon Koka (Erythroxylum sp.)
di Kolombia
Koka (Erythroxylum sp.) adalah tanaman budidaya asli dari bagian barat Amerika Selatan yang berasal dari famili Erythroxylaceae. Tanaman koka berbentuk semak dan dapat tumbuh hingga ketinggian 2-3 meter (7-10 kaki). Cabangnya lurus dan daunnya tipis, berwarna gelap. Bunganya kecil, bergerombol dalam tangkai yang pendek; mahkotanya berjumlah lima dan berwarna putih kekuningan; benang sarinya berbentuk hati, dan putiknya terdiri atas tiga bagian yang menyatu membentuk bakal buah beruang tiga. Bunganya lalu berkembang menjadi beri merah.
Terdapat dua spesies yang dibudidayakan, yaitu Erythroxylum coca dan Erythroxylum novogranatense. Jenis Erythroxylum coca mempunyai dua varietas, yaitu E. c. coca, yang hidup pada sisi timur Pegunungan Andes di Peru dan Bolivia; dan E. c. ipadu, yang dikembangbiakkan di dataran rendah sungai Amazon di Peru dan Kolombia. Jenis Erythroxylum novogranatense juga mempunyai dua varietas yang dikembangkan, yaitu E. n. novogranatense yang ditumbuhkan di dataran kering di Kolombia, dan E. n. truxillense, yang tumbuh di Peru dan Kolombia. Perbedaan kedua varietas di atas adalah E. n. novogranatense memiliki garis sejajar pada kedua sisi tulang daunnya, sedangkan E. n. truxillense tidak. Keempat varietas tersebut telah dikembangbiakkan sejak sebelum masa penemuan oleh Colombus.


Sejarah
Coquero, patung pengunyah koka
antara tahun 850-1500 M, Brooklyn Museum
Jejak-jejak penanaman koka telah ada sejak 3000 tahun yang lalu. Bahkan terdapat bukti lain bahwa penduduk di sana telah mengunyah daun koka dengan lemon sejak 8000 tahun yang lalu. Bukti-bukti arkeologis pengunyahan koka yang cukup melimpah paling tidak bertanggal pada abad ke-6 pada masa budaya Moche. Tradisi ini pun berlanjut hingga pada Inca setelahnya. yang didasarkan pada mumi yang ditemukan bersama daun koka, gerabah yang menggambarkan pengunyah koka, serta sebuah spatula yang dibuat dari logam berharga untuk mengekstrak alkali dan bergambar kantung yang berisi daun koka.
Pengunyahan daun koka mungkin terbatas hanya pada bagian timur Pegunungan Andes dikenal oleh bangsa Inca (Quechua). Karena tanaman tersebut dipandang sebagai tanaman "dewa", maka penanamannya pun menjadi monopoli dari kekaisaran dan penggunaannya pun hanya pada golongan bangsawan dan beberapa golongan terpandang (ahli pidato, kurir, pekerja publik yang disukai, dan tentara) pada masa pemerintahan Topa Inca (1471-1493). Setelah Kekaisaran Inca mulai runtuh, daun koka pun semakin luas penggunaanya. Pada tahun 2006, pemerintah beberapa negara Amerika Latin, seperti Venezuela, Peru, dan Bolivia, berhasil mempertahankan dan memenangkan penggunaan tradisional koka, sebagaimana penggunaannya secara modern dari daun dan ekstraknya pada produk rumah tangga seperti teh dan pasta gigi.


Daun koka
Daun dan buah koka
Daun dan ranting koka



Penggunaan Tradisional
1. Sebagai Obat
Penggunaan daun koka untuk khasiat medis kebanyakan ditujukan untuk menghilangkan keletihan, lapar, serta haus. Beberapa kalangan meyakininya efektif untuk mengatasi penyakit gunung (mountain sickness). Koka juga digunakan sebagai obat bius dan analgesik untuk meredakan sakit kepala, rematik, nyeri dan luka, dan sebagainya. Sebelum obat bius yang lebih kuat tersedia, koka juga digunakan untuk meredakan sakit saat patah tulang, melahirkan, dan juga saat operasi trepanasi (melubangi tulang tengkorak, suatu tradisi masyarakat Andes). Kandungan kalsium yang tinggi pada koka juga menjelaskan mengapa koka digunakan untuk mengatasi patah tulang. Karena koka mengerutkan pembuluh darah, koka juga digunakan untuk menghentikan perdarahan, dan biji koka digunakan untuk mengobati mimisan. Telah dilaporkan bahwa penduduk asli menggunakannya untuk penanganan malaria, bisul, asma, untuk melancarkan pencernaan, untuk melindungi dari lemah perut, perangsang birahi, dan juga untuk obat panjang umur. Studi modern telah mendukung pemakaiannya dalam pengobatan.

2. Sebagai Bahan Pangan
Daun koka mentah, baik dikunyah maupun dijadikan teh atau mate de coca, kaya akan kandungan gizi. Secara khusus, koka mengandung beragam mineral esensial (kalsium, kalium, dan fosfor), vitamin (B1, B2, C, dan E), dan zat gizi lain seperti protein dan serat pangan.

3. Dalam Ritual Keagamaan
Koka juga menjadi bagian penting dari kosmologi keagamaan masyarakat Pegunungan Andes di Peru, Bolivia, Ekuador, Kolombia, Argentina utara, dan Cile sejak masa pra-Inca hingga sekarang. Daun koka memainkan peranan penting sebagai sesajian kepada Apus (gunung), Inti (matahari), dan Pachamama (bumi). Daun koka juga sering digunakan dalam ritual peribadatan, mirip dengan daun teh pada budaya di belahan dunia lainnya. Salah satu contoh dari kepercayaan tradisional mengenai koka adalah, daun koka dipercaya oleh penambang di kota Cerro de Pasco, Peru, dapat melunakkan lapisan bijih tambang, apabila daun koka dikunyah lalu dilemparkan ke atasnya. Sebagai tambahan, penggunaan koka dalam ritual perdukunan tercatat di mana pun penduduk asli menanamnya. Sebagai contoh, suku Tayronas di Sierra Nevada de Santa Marta, Kolombia terbiasa mengunyah koka sebelum melibatkan diri dalam pengobatan dan peribadatan.

4. Penyajian Tradisional
Secara tradisional, daun koka disajikan untuk dikunyah ataupun diminum sebagai teh (mate de coca).

a. Dikunyah
Di Bolivia, keranjang-keranjang berisi daun koka diperjualbelikan di tepian jalan di pasar-pasar dan oleh pedagang kaki lima. Kegiatan mengunyah daun koka disebut juga mambear, chaccar, atau aculicar, sebuah kata serapan dari bahasa Quechua, coquear (dialek Argentina utara), atau di Bolivia picchar, yang diambil dari bahasa Aymara. Koka biasanya dikonsumsi dalam jumlah 57 gram (2 ounce) tiap hari, dan kebiasaan ini dipercaya tidak pernah berubah sejak zaman dahulu. Koka disimpan dalam keranjang dari anyaman (chuspa atau huallqui). Mengunyah daun koka dapat menyebabkan sensasi kesemutan dan kaku dalam mulut.
Mengunyah daun koka paling sering dijumpai di masyarakat penduduk asli di tengah-tengah daerah Andes, khususnya di daerah pegunungan Kolombia, Bolivia, dan Peru, yang penanaman dan pemakaiannya telah menjadi bagian dari budaya nasional, seperti anggur (wine) di Prancis dan bir di Jerman, Koka juga menjadi lambang kebudayaan pribumi yang kuat dan identitas keagamaan di antara kebermacaman bangsa-bangsa di Amerika Selatan.
Koka sampai sekarang masih dikunyah dengan cara tradisonal, dengan menambahkan sedikit ilucta (abu dari tanaman quinoa) ke dalam daun koka. Penambahan ini mengurasi rasa penyempitan kulit (astringent) dan mengaktifkan alkaloid, Nama lain dari senyawa pengaktif alkali ini adalah ilipta di Peru. Pemakai dengan hati-hati menggunakan batang kayu untuk memasukkan senyawa alkalin ke dalam kunyahan tanpa menyentuh rongga mulut. Senyawa alkalin ini biasanya disimpan dalam sebuah labu (ishcupuro atau poporo), yang dibentuk dari pembakaran batu kapur untuk menghasilkan kapur, batang quinoa yang dibakar, atau ranting dari tumbuhan tertentu. Senyawa ini dapat disebut ilipta, tocra, atau mambe tergantung dari komposisinya. Kebanyakan senyawa ini berasa asin, namun beragam. Senyawa basa yang paling lazim di La Paz, Bolivia, adalah senyawa yang disebut lejia dulce, yang didapatkan dari abu tanaman quinoa dicampur dengan adas manis dan gula tebu, membentuk senyawa hitam dempul halus dengan rasa manis dan menggembirakan. Di beberapa tempat, soda kue digunakan dengan nama bico.


Teh koka (mate de coca)
b. Sebagai teh koka (mate de coca)
Meskipun pengunyahan daun koka hanya lazim ditemukan pada masyarakat pribumi, konsumsi teh koka (mate de coca) lazim ditemukan pada segala lapisan masyarakat di negara-negara Andes, khususnya karena ketiinggiannya dari permukaan laut, teh koka dipercaya bermanfaat meningkatkan kesehatan, semangat, dan tenaga. Daun koka dijual dalam bentuk kantong teh di hampir setiap toko kelontong di daerah tersebut, dan penyajian hidangan kepada wisatawan biasanya juga ikut menyajikan teh koka.

Sisi Nutrisi dari Daun Koka
Dalam 100 gram daun koka, terdapat mineral kalsium, fosfor, besi, dan vitamin A, B2, dan E yang melebihi rekomendasi asupan harian (angka kecukupan gizi) di Amerika Serikat. Berdasarkan studi yang diterbitkan oleh Harvard University pada tahun 1975 (Duke, J., Aulik, dan T. Plowman, Nutritional Value of Coca), mengunyah 100 gram koka cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia dewasa untuk 24 jam. Karena kandungan kalsium, protein, vitamin A dan E, dan nutrien lainnya, tanaman ini menawarkan kemungkinan baik untuk masuk ke dalam ranah pangan daripada obat, sebagaimana digunakan hari-hari ini.

Analisis Gizi Koka (Erythroxylum coca)

Takaran saji: 100 gram (Mortimer, Mantegazza, Mariani, Morales, Molina)
Asam organik: 3,2 mg; Karbohidrat: 46,2 gram; Serat pangan: 14,2 gram; Lemak: 3,3 gram; Air: 7,2 gram
Vitamin: A: 141000 IU; alfa karoten: 2.65mg; B1 (tiamin): 0.68mg; B6 (piridoksin): 0.58mg; beta karoten: 20mg; C (asam askorbat): 53mg; H (biotin): 0.54mg; Asam nikotinat: 5mg.
Mineral:   Aluminium: 49mg; Barium: 17mg; Boron: 24mg; Kalsium: 1540mg; Tembaga: 1.1mg; Kromium: 0.23mg; Stronsium: 204mg; Besi: 45.8mg; Fosfat: 911.8mg; Magnesium: 0.37mg; Mangan: 0.5mg; Kalium: 1.9mg; Natrium: 1110mg; Seng: 3.8mg


Benzoylmethylecgonine, salah satu senyawa
psikoaktif dalam daun koka
Sisi Farmakologis Daun Koka
Zat aktif pada daun koka adalah alkaloid koka (kokain), yang terdapat dalam kisaran 0,3% hingga 1,5%, dengan rata-rata 0,8% pada daun yang masih segar. Selain itu, daun koka juga mempunyai beberapa alkaloid lain seperti methylecgonine cinnamatebenzoylecgonine, truxilline, hydroxytropacocaine, tropacocaine, ecgonine, cuscohygrine, dihydrocuscohygrine, nicotine,  dan hygrine. Ketika dikunyah, daun koka berperan sebagai stimulan ringan dan menekan rasa lapar, haus, sakit, dan lelah. Penyerapan senyawa koka dari daunnya memakan waktu lebih lambat daripada menghirup alkaloid murni lewat hidung (hampir semua senyawa daun koka diserap dalam waktu 20 menit setelah dihirup, sedangkan penyerapan setelah daun ditelan membutuhkan waktu 2-12 jam supaya jumlah alkaloid mencapai puncaknya). Ketika daun mentah dikonsumsi sebagai teh, antara 59% hingga 90% dari jumlah alkaloid diserap.
Daun koka, ketika dikonsumsi dalam bentuk asalnya, tidak akan menimbulkan ketergantungan baik fisiologis maupun psikologis ataupun gejala kecanduan apabila cukup lama tidak dikonsumsi. Karena kandungan alkaloid dan sifat noncandunya, koka telah disarankan sebagai metode penyembuhan kecanduan kokain untuk menghentikan pemakaian obat-obatan terlarang.

Sumber:
"Coca" (http://en.wikipedia.org/wiki/Coca; diakses pada 7-27 September 2014)

10 Mei 2011. "Coca Leaf Nutririon" (http://aboutcocaleaf.com/?p=13; diakses pada 27 Septeember 2014)

0 komentar:

Posting Komentar